Film Anak

Mulan : Film Anak yang Sarat Nilai Moral

Sudah semenjak SD saya menonton film kartun Mulan. Merupakan kesenangan saya untuk menonton film kartun sepulang sekolah, sehingga hampir semua film kartun saya tonton. Dan di umur 20 tahun ini dimana saya hampir tidak punya waktu untuk menonton TV pun, saya sempatkan diri menonton film Mulan pada tanggal 22 Juni 2015. Namun, bukan karena kecintaan saya pada film kartun seperti yang saya lakukan ketika SD dulu, melainkan karena pada saat itu hati saya sedang dilanda keraguan dalam meniti jalan karir, namun rasio bersikeras mempertahankan jalan yang telah dipilih. Seakan ada yang membisikkan di telingaku pada saat itu untuk tidak tidur di dini hari tersebut, melainkan streaming Mulan di Youtube.

Dalam beberapa point di bawah ini, pelajaran yang bisa diambil dari film Mulan akan terjabarkan.

bagi wanita: perawatan fisik bukanlah yang utama

Mulan bukanlah gadis yang seperti pada umumnya di negeri Cina pada saat itu. Ia cerdas, suka berdiskusi, dan pemikir strategi yang baik. Ia mampu menolong orang yang sedang terancam kalah dalam permainan catur agar bisa menang.

image

Benar bahwa ia termasuk gadis yang manis. Namun, bukan menjadi kefokusannya untuk melakukan perawatan fisik diri. Buktinya pada hari dimana ia akan dipersiapkan sebagai calon pengantin beserta beberapa gadis Cina lainnya (yang merupakan sebuah tradisi wajib bagi gadis remaja Cina) ia dibantu total oleh ibunya dan salon langganan ibunya.

Betul, bahwa jika seorang wanita pandai merawat fisik adalah hal yang bagus. Namun ingatlah bahwa fisik bukanlah satu-satunya dan bukanlah hal yang terpenting untuk diurusi. Kepribadian dan kecerdasanlah yang harus diurus oleh wanita sebagai seorang manusia juga.

jati diri adalah hal yang harus dicari

Mulan gagal dalam “ujian kepengantinan” (sebut saja begitu). Ia membuat kekacauan yang membuat si penguji kesal dan mengutuk Mulan menjadi perawan tua. Hal itu membuat keluarga Mulan jatuh namanya. Semua bersedih atas ketidaklulusan Mulan, termasuk Mulan sendiri.

Bagi rakyat Cina, seorang perempuan yang tidak lulus uji pengantin adalah sebuah aib. Karena tugas utama perempuan adalah menjadi istri yang baik bagi para lelaki yang banyak bertugas di medan perang. Mulan seakan berada dalam dilema, ia dituntut oleh lingkungannya untuk menjadi wanita yang anggun, yang siap menjadi pendamping hidup laki-laki. Sementara dunia Mulan bukanlah di sana. Itulah mengapa, ia merasa dirinya tidak bisa menjadi orang yang berguna bagi siapapun, terutama bagi keluarganya. Ia tidak tahu apa yang bisa membuat dirinya bermanfaat dan diterima oleh lingkungannya. Saat itulah ia bersenandung di lagu yang kita kenal dengan judul Reflection. Lirik lagu tersebut mengungkapkan bahwa Mulan tidak tahu bagaimana dirinya sendiri, dan ingin mengetahui apa sebenarnya yang menjadi identitas sejati dirinya.

benarkanlah hal yang benar dan lakukanlah hal yang benar, meskipun menurut orang lain bisa jadi salah

Pada hari dimana Pemimpin Cina memanggil perwakilan lelaki dari setiap keluarga untuk ikut wajib militer demi melawan The Huns (musuh yang ingin menguasai Cina), terlihatlah watak Mulan yang objektif untuk membela kebenaran. Pasalnya, Mulan tidak memiliki saudara laki-laki untuk dikirim ke wajib militer, sehingga sebagai satu-satunya laki-laki, ayahnya lah yang harus berangkat. Meskipun orang-orang tahu bahwa ayahnya sudah tua dan sakit-sakitan, tidak mungkin efektif untuk dijadikan prajurit perang. Hanya kematianlah yang pasti dialami beliau ketika berlatih wamil.

image

Namun bagi pemerintah Cina saat itu lebih baik ada perwakilan laki-laki dari setiap keluarga, daripada tidak menjadikan lelaki tua renta yang sakit-sakitan sebagai prajurit perang. Dalam titik itu, Mulan memberontak langsung di hadapan utusan Pimpinan Cina, dan di hadapan warga Cina:

“Ayah saya sudah tidak sanggup lagi berperang. Ia hanya akan mati di peperangan. Jangan kirim ayah saya. Masih banyak laki-laki muda di luar sana yang mampu berperang”

Namun permohonannya itu tidak ditanggapi oleh Sang Utusan, dan ayahnya pun merasa harga dirinya jatuh ketika anak gadisnya memberontak seperti itu. Ayahnya akan tetap pergi ke wamil demi Cina.

Pada malam dimana Ayahnya membuka kembali perangkat perangnya yang sudah lama tersimpan di lemari, Mulan sengaja mengintip ayahnya, dan mendapati ayahnya terjatuh karena sakit tulang. Dari situ ia yakin bahwa ada jalan lain yang bisa ditempuh agar ayahnya tidak berangkat. Mulan lah yang harus berangkat, dengan menyamarkan diri menjadi seorang laki-laki. Tanpa make up ; rambut yang dipotong pendek ; dengan kain pelurus dada ; dan suara yang dibuat-buat seperti laki-laki membuatnya berhasil diterima sebagai prajurit perang di camp pelatihan perang.

Terlihat bukan, betapa Mulan adalah gadis yang tidak hanya cantik dan cerdas, melainkan objektif memperjuangkan yang benar. Jika perempuan dianggap tidak bisa berperang, seharusnya laki-laki tua renta yang berpenyakit pun harus lebih dianggap tidak bisa berperang.

tekad dan kerja keras : jika kita merasa sangat kurang mampu, berlatihlah lebih keras dari orang lain agar kita menjadi yang paling mampu

Menjadi satu-satunya wanita di Cina yang ikut camp wajib militer adalah tantangan Mulan. Ia disoroti oleh ribuan prajurit dan para pelatih perang, dan dianggap yang paling lemah dari semua. Seringkali ia menjadi bahan cemoohan teman-teman troops nya.

Dalam bait lagu I’ll Make A Man Out of You yang dalam film dinyanyikan oleh Shang (pemimpin perang) spesial untuk Mulan laki-laki (ia menyamarkan namanya menjadi Ping), dikisahkan bagaimana dalam pelatihan Mulan selalu menjadi yang paling ceroboh dan lemah. Shang ingin agar Ping bisa lebih jantan (Man). Hingga pada bait tengah, Shang memutuskan untuk mengeluarkan Ping dari pelatihan wamil, karena ia sendiri pesimis untuk merubah Ping menjadi prajurit yang kuat. Katanya: “How could I make a man out of you?!

Namun, ketika Mulan baru saja hendak pulang ke rumah di malam hari, ia tergerak untuk mencoba sekali lagi, dan bertekad untuk membuktikan pada Shang bahwa ia bisa bertahan di pelatihan wamil. Ketika semua orang sudah terbaring di matras mereka, ia melakukan panjat tiang sendirian. Dan pada subuh hari di mana matahari baru saja terbit, ia berhasil mencapai puncak : sesuatu yang belum pernah dicapai oleh peserta wamil lainnya. Ketika orang-orang di camp bangun, mereka semua terkesima dengan apa yang Ping capai, termasuk Shang, yang akhirnya memberikan Ping kesempatan lagi untuk berlatih perang.

Demikianlah Mulan, tekadnya untuk membuktikan bahwa ia bisa, membuat seluruh kemampuan fisiknya all out sehingga berhasil meraih puncak, meskipun ia adalah perempuan, sedang yang lainnya adalah pejantan. Dan dengan keahliannya menetapkan strategi, ia kerap menjadi pencetus strategi jitu untuk mengalahkan The Huns di medan peperangan salju, hingga The Huns pun berhasil dilumpuhkan oleh tumpukkan gunung es yang jatuh oleh ledakan petasan Ping.

Dan yang lebih mengagumkan lagi, dikala Shang menyadari bahwa Ping yang sebenarnya adalah Mulan, yakni perempuan, dan diputuskanlah hubungan dinas keprajuritan Ping pada saat itu juga, Mulan masih peduli pada nasib bangsa Cina dengan mengabarkan kedatangan The Huns yang masih hidup dan melanjutkan perjalanan perangnya ke kota Cina. Saat itu rakyat Cina yang sedang berpesta merayakan keberhasilan prajurit pimpinan Shang sedang dibutakan oleh rasa senang. Mulan bersikeras mengabarkan Shang, namun Shang dan seluruh rakyat Cina tidak percaya pada Mulan yang hanyalah seorang gadis remaja. Hingga The Huns pun menampakkan wujudnya di hadapan Cina, dan Mulan pun kembali hadir mencetuskan strategi jitu mengalahkan The Huns. Pada akhirnya, Cina selamat berkat tangan gadis remaja yang gagal di ujian pengantin itu.

Cerita tentang Mulan ini termasuk dalam film Disney Princesses, yang mana Mulan disetarakan dengan Cinderella, Beuaty and the Beast, Snow White, dan lainnya. Menurut saya Princess yang sejati harus dinobatkan pada Mulan. Film anak yang seharusnya adalah film berpesan moral seperti ini. Jika film Princess lainnya cenderung hanya menunggu keajaiban dari peri untuk bisa berubah nasib, atau hanya berkutat dengan masalah cinta seorang pangeran, dan mendahulukan kecantikan fisik daripada yang selainnya, maka Mulan sangatlah ilmiah dan tidak terbandingkan dengan mereka. Princess sejati adalah Mulan, bukan yang lain.

Dahulu, ketika saya masih SD, meskipun saya menontonnya berpuluhan kali, pesan moral dari film Mulan tak pernah saya tangkap sama sekali. Andai dahulu saya menangkap makna berharga di balik film ini, mungkin kepribadian Mulan sudah tertanam dalam diri saya sejak dini. Memang penting bagi orang tua atau babysitter untuk mendampingi anaknya dalam menonton film, memandu anaknya untuk mengambil pelajaran dari apa yang ditonton. Banyak film yang berajarkan moral, tapi jarang ada anak yang menangkap pesan moralnya.

Semoga kedepan, banyak film yang bernapaskan perjuangan bagi anak-anak, seperti film Mulan I ini.

image

1 thought on “Mulan : Film Anak yang Sarat Nilai Moral”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s