Film Anak

Ironi: Tayangan Balita vs Tayangan Remaja

Saya bekerja sampingan di sebuah keluarga di Jerman, untuk menjaga anak-anaknya dari pagi hingga siang hari. Mereka adalah balita yang kesenangannya menonton tayangan anak KIKA (Kinder Kanal) dan Toggolino dari jam 8 hingga 9 pagi. Sehingga saya sebagai pengasuh paruh waktunya juga ikut mendampingi mereka ketika menonton TV.

Sungguh senang melihat ada tayangan-tayangan anak yang mendidik di channel tersebut. Tayangan tersebut banyak mengajari anak menyelesaikan masalah yang umum di sekitar mereka dengan bahasa dan animasi yang sangat dekat dengan dunia anak, kadang dengan nyanyian juga. Menurutku pesan dari film pasti akan tersampaikan secara anak. Anak yang kuasuh juga mengerti dan seringkali meniru apa yang dinyanyikan dan ia lakukan di keseharian.

image

Contohnya pada channel Toggolino terdapat tayangan Daniel der Tiger yang menceritakan tentang anak harimau dan kehidupannya di TK. Suatu hari Daniel sangat kesal karena mainannya direbut oleh teman TK nya. Kemudian Sang Ibu Tiger datang dan memberikan pesan dengan sebuah nyanyian:

“Jika kau marah
dan tidak bisa mengendalikannya
letakkan telapak tanganmu di atas dada
tariklah napasmu
dan berhitunglah (tangan membentuk tangga turun ke bawah seiring dengan menghitung sampai lima)
Satu, Dua, Tiga, Empat, Lima”

Lalu rasa kesal itu menjadi reda. Ia mampu mengontrol emosinya agar tidak melunjak. Tentu saja jika hal semacam ini dibiasakan pada anak, akan terbentuk karakter anak yang memiliki kecerdasan emosi.

Pada tayangan lain, terdapat seorang anak yang menumpahkan susu secara tidak sengaja ke atas lantai saat hendak menuangkannya ke dalam gelas. Lalu ia merasa bahwa ia selalu salah dalam berbuat, tidak seperti orang tua atau kakak-kakaknya yang bisa menuangkan susu ke dalam gelas tanpa tumpah. Saat itupun Sang Ibu bersenandung singkat, yang kurang lebih artinya sebagai berikut:

“Berbuat salah tanpa sengaja itu tidak apa-apa, tidak ada yang harus disesali.
Darinya kau dapat belajar (untuk lebih berhati-hati)”

Secara kognitif anak akan memahami bahwa kesalahan berbuat tidak perlu disesali. Terbentuk pola pikir untuk selalu belajar dari kesalahan, bukan mengkutuk dan menyalahkan diri sendiri.

Secara garis besar, tayangan anak dari pukul 7 pagi hingga 10 pagi itu sangatlah mendidik, mereka mengerti apa yang dibutuhkan anak balita untuk berkembang.

Cerita berlanjut. Biasanya setelah sarapan dan menonton TV, aku akan mengajak anak-anak bermain, sebelum kemudian di siang hari aku harus berpisah dengan mereka. Dan kala kami bermain, sepupu tertua dari dua malaikatku yang seringkali menginap di rumah keluarga tempatku bekerja ini, menonton channel TV yang sama yakni KIKA, namun dengan tayangan siang hari yang sudah bukan bernuansa anak-anak lagi. Pemainnya bukanlah animasi, melainkan anak-anak muda berumur 13-17 tahun.

Sempat penasaran mengenai bagaimana tayangan TV untuk remaja, aku ikut menonton beberapa kali siaran itu. Dan betapa jauh berbeda pesan moral yang terkandung di dalamnya.

Siaran itu mengisahkan tentang anak-anak SMA di Jerman (Gymnasium) yang tinggal di asrama pelajar. Asrama tersebut menyatu dengan gedung sekolah, sehingga segala aktivitas mereka adalah di sekolah. Dan kisah yang menjadi fokus utama adalah bagaimana pelajar-pelajar perempuan di asrama itu menjalin hubungan asmara dengan pelajar-pelajar laki-laki. Setiap hari, kisah asmara yang diceritakan berbeda-beda. Hari ini menceritakan pasangan A, besok menceritakan pasangan B, dan seterusnya di setiap episode. Contohnya, ada seorang pelajar laki-laki yang jatuh cinta pada pelajar perempuan. Kemudian ia mencari cara agar cintanya bisa diterima oleh si perempuan. Terkisahkanlah dalam satu episode tersebut bagaimana upaya si laki-laki PDKT ke perempuan, hingga akhirnya mereka berstatus pacaran. Selang beberapa episode, pasangan tersebut kembali dikisahkan. Masalah muncul, yakni si laki-laki terlibat cinta lokasi di ekskul dengan perempuan lain. Pasangan itu pun berada dalam konflik dan pada akhirnya di episode selanjutnya mereka putus, dan si laki-laki PDKT ke perempuan baru yang masih merupakan teman dari perempuan yang baru ia pacari.

Di episode lainnya, dikisahkan sebuah pasangan yang harus berada dalam konflik karena si perempuan merasa kurang perhatian dari pasangannya. Si laki-laki sibuk pada hobinya bertinju, dan sering mengabaikan janjian yang dibuat dengan pacarnya.

Dari beberapa episode yang kutonton tersebut (yang kalau ditonton sambil dihayati akan mengucurkan air mata hehe), muncul satu kesimpulan, bahwa tayangan remaja lebih tidak mendidik ketimbang tayangan untuk balita.

Tanya “mengapa”? Saya curiga stasiun televisi berbau nonprofit, memanfaatkan kondisi biologis remaja yang sedang berada di puncaknya, dan kondisi psikologis remaja yang penasaran akan kesenangan, yang darinya kru stasiun televisi akan menuai beras untuk keluarga. Bagaimana bisa ditoleransi, ketika tayangan balita begitu sangat mendidik dan menjawab kebutuhan usia dini, sedangkan tayangan remaja sama dengan nihil?! (maaf agak emosi)

Remaja adalah fase dimana kondisi fisik dinamis dan psikologis sarat akan kehausan sesuatu yang baru, yang dari situ mereka berada dalam proses pembentukan pola pikir dan ide dasar. Pola pikir dan ide dasar ini dibangun salah satunya melalui apa yang biasa mereka alami di keseharian, yang bersifat rutin dan terngiang-ngiang dengan sering. Jika sudah terbentuk, maka pola pikir dan ide dasar inilah yang ke depan menjadi landasan mereka (baik disadari maupun tidak disadari oleh mereka) dalam mengambil keputusan ketika sudah mandiri, misal di dunia kerja, dunia keluarga, dan lain-lain. Sehingga, bimbingan yang benar butuh difasilitasi bagi mereka, agar di fase dewasa nanti pola pikir dan ide yang benar lah yang terbentuk pada mereka.

Tidak bicara mengenai “ide apa dan pola pikir seperti apa yang benar”, terlalu rumit dan panjang untuk diceritakan di blog simple ini. Namun secara universal, jika tayangan TV amoral tersebut dipasang setiap sore (waktu pulang sekolah anak-anak SMA), dengan durasi satu jam (di kala tayangan lain yg better hanya berdurasi setengah jam) dan di akhir pekan pun tetap ditayangkan (di kala tayangan lain tidak muncul di tayangan weekend), dapat dilihat betapa sengaja tayangan tersebut ditawarkan untuk remaja. Bagi remaja yang rutin mengkonsumsinya, pola pikir apa yang kira-kira terbentuk? Menurut hemat saya, remaja akan menganggap cantik dan ganteng adalah yang ideal, dan berpasangan dengan yang cantik atau yang ganteng adalah yang terpenting. Darinya terbentuk pola pikir bahwa memiliki fisik yang cantik, teman-teman yang juga ideal dan berpasangan dengan cowok-cowok ganteng adalah kebahagiaan sejati (berlaku sebaliknya bagi laki-laki). Tindakan yang akhirnya dilakukan keseharian adalah berdandan agar terlihat seperti artis-artis di tayangan tersebut, dan jaim demi mendapatkan pengakuan dari lingkungan yang ideal dan demi menarik pasangan. Nilai rapot sekolah? – nanti ajee, scheiss egal.

Kecewa pada negeri yang kaya raya sampai mau meminjamkan uang dengan jumlah besar ke negeri orang ini…? Entahlah, berharap bahwa remaja-remaja Jerman tidak segera terkontaminasi nilai-nilai pada tayangan itu, meskipun rasanya mustahil. Mungkin sekian persen saja. Karena Jerman bisa jadi negeri yang kuat saat ini, namun ketika remajanya sibuk dengan fisik dan pasangan, siapa yang menjamin kekuatan itu akan bertahan pada Jerman di masa yang akan datang?

image

Berharap semoga suatu saat nanti akan lebih banyak tayangan TV yang menunjang perkembangan kognitif, kecerdasan emosi dan softskill bagi remaja……tidak hanya untuk balita saja seperti saat ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s