Uncategorized

Bahaya Update di Media Sosial atau Social Messenger

Gadget sekarang ditemukan di seluruh belahan muka bumi, otomatis software nya banyak terinstall. Beberapa media messengers yang banyak dikonsumsi pengguna gadget terutama di Indonesia adalah LINE Messenger, Whatsapp Messenger, BBM Messenger, Facebook Messenger dan messenger-messenger lainnya. Bukan rahasia lagi bahwa para pengguna gadget hari ini terkena virus update, yakni memposting update di status, home, sehingga rekanan messenger mendapatkan update-an pula tentang apa-apa yang kita update. Perilaku mengupdate update an orang lain (maaf belibet) ini juga termasuk dengan perilaku meng-Update dalam tulisanku kali ini.

Yang menjadi fokus masalah kali ini adalah mengenai “apa tujuan kita mengupdate, baik mendapatkan update an tentang orang lain ataupun mengupdate apa-apa tentang kita?”

Sebelum membahasnya, aku punya pengalaman mengerikan mengenai update-mengupdate di messengers. Aku sekarang sedang merantau untuk menempuh pendidikan di Eropa, dan sudah menginjak satu tahun. Dalam perjalanannya, sering penulis diserang virus homesick, bukan pada makanan-minuman, cuaca dan pakaian Indonesia, melainkan pada bahasa Indonesia dan topik-topik pembicaraan tentang Indonesia kekinian (weird homesick, right?)
Dorongan inilah yang membuat penulis secara alamiah ingin menjalin kontak intensif dengan orang-orang yang ada di Indonesia, agar bisa kepo terhadap apa-apa yang terjadi di sekitar Indonesia – terutama pasca pilpres yang katanya orang-orang heboh bener kebijakan-kebijakan barunya, dan agar bisa berbicara dengan leluasa pakai bahasa ibu (di kota tempat saya tinggal, tidak ada sama sekali orang Indonesia. Namun beberapa bulan ke depan saya pindah ke kota lain yang insya Allah lebih banyak komunitas Indonesia nya). Alhasil, di setiap akhir rutinitas wajib saya, seperti sekolah, kerja sambilan, dan lain-lain, segera saya mengupdate messengers saya. Wifi gadget saya nyalakan, menunggu apakah ada message masuk atau tidak via messengers, lalu mengecek satu per satu messengers yang saya punya (ada lima messengers terinstall di HP saya dulu hehe). Saya buka-buka status orang di Whatsapp, baca-baca Home LINE orang-orang sampai ditarik ke paling bawah-bawah (ini biasanya dilakukan tiap weekend ketika free dari sekolah ataupun kerja), dan update home Facebook. Informasi yang saya dapatkan beragam macamnya, termasuk informasi mengenai perkembangan Indonesia yang biasa ter-share di Facebook teman. Dari situ saya tahu bahwa Pak Ridwan Kamil disangka turis Jerman sebagai presiden RI, hehe. Saya merasa, dengan melihat update dari messengers atau medsos, pengetahuan saya bertambah.

Namun jujur saja, seringkali saya juga tidak mendapatkan update an yang saya inginkan melalui buka-buka messengers atau medsos itu. Yang saya dapatkan hanyalah informasi mengenai teman lama yang sedang kesal karena dicuekin pacarnya, update makanan-makanan yang baru saja dimakan oleh teman-teman saya di Indonesia, informasi perkembangan janin di rahim teman-temannya ibu saya, dan cipratan ludah maki-makian teman satu sama lainnya (di home Facebook).

Dan parahnya lagi, ketika saya menyadari bahwa saya tidak terupdatekan oleh informasi aktual Indonesia, di situ homesick virus saya semakin mengganas ke berbagai bagian tubuh, terutama hati dan otak. Saya gali terus tiap profil-profil teman yang saya kenal di Indonesia: apa status Whatsapp nya, apa yang ada di pikirannya ketika menuliskan update di home LINE, bahkan….. kapan terakhir mereka lihat Whatsapp atau Facebook messenger mereka (dilihat dari last seen…).
Tahukah kamu berapa total waktuku yang terbuang untuk melakukan itu semua?

hingga 3

jam

, bahkan lebih

Yang saya dapatkan dari eksplorasi 3 jam itu adalah:
1. Info geje rekan medsos saya
2. Info kapan terakhir temen-temen saya buka medsosnya
3. Rasa kangen yang tidak terbalaskan, bertambah parah rasa kangennya hingga berkucuran air mata
4. Kekecewaan karena tidak tercapai apa yang saya inginkan dari buka-buka medsos
5. Tapi penasaran lagi, barangkali dalam detik ini teman-teman saya kembali mengupdate sesuatu yang menarik
6. Akhirnya kembali mengupdate dan terulang sudah no 1-6

Inilah lingkaran setan yang saya rasakan selama satu tahun ini (sekarang juga masih tapi kadang-kadang). Dan saya yakin, banyak dari kaum muda yang sedang menempuh pendidikan, dimanapun mereka berada, sedang terlilit lingkaran setan ini, dengan alasan yang mungkin bisa jadi bukan karena homesick seperti saya.

Apa yang bermasalah dari lingkaran setan ini?
Tiga jam, empat jam, adalah hadiah. Allah SWT menitipkan setiap waktu kita, detik yang kita jalani, untuk kita optimalkan kepada menciptakan perubahan ke arah yang lebih baik. Kita adalah anak muda, banyak sekali pengalaman dan skill yang belum kita miliki, masih banyak sisi-sisi diri kita yang harus ditambal, diasah agar menjadi suatu keutuhan yang kelak di usia paruh baya atau usia tua bisa menebar manfaat bagi lingkungan luas: tentunya untuk merubah nasib dunia menjadi lebih baik.
Jika tiga jam kita dalam satu hari, atau lebih, kita gunakan untuk stagnansi, keresahan dan ketidakproduktifan, hitung saja berapa tahap hidup yang kita siram ke saluran tinja (3 jam x 7 hari = 21 jam, hampir satu hari penuh dalam seminggu. bisa jadi weekend lebih lama lagi).
Itu baru secara kuantitatif waktu yang terbuang. Secara kualitatif, alangkah korupnya kita terhadap amanah Tuhan yang satu ini. Ibarat seorang direktur perusahaan pusat yang memberikan modal 24 juta ke direktur anak cabang untuk dioptimalkan membangun cabang perusahaan di daerahnya, lalu si direktur cabang menggunakan 3 juta untuk perawatan fisik dirinya.  Disebut apakah si direktur cabang tersebut?

Koruptor

Begitupun kita terhadap waktu kita, yang akan dimintai struk penggunaan waktunya oleh Allah SWT Sang Maha Memiliki. Jika ditanya kelak oleh-Nya, “kemana perginya 21 jam mu dalam seminggu?”
Lalu kita jawab apa? “kepo makanan favorit temen Facebook gue, ya Rabb”
Astagfirullah… Allah memang Maha Pemaaf dan pemberi taubat, jika dan hanya jika manusianya benar-benar menyadari kesalahannya dan berupaya menyelesaikannya.

Alangkah indahnya, jika waktu luang yang kita miliki digunakan untuk hal-hal yang lebih bernilai. Bahkan untuk istirahat sejenak pun (dengan gaya masing-masing, kalau saya senangnya relaksasi dengan mendengarkan lagu motivasi atau menonton film inspiratif), lebih bernilai daripada menguras hati dan pikiran dengan kepoin profil temen-temen kita (kecuali jika gaya relaksasi kamu adalah dengan kepoin kehidupan geje nya teman-teman kamu di medsos atau messengers. Tapi, yakin lo dari situ bisa bener-bener relaksasi? Gak malah capek hati ngeliatin orang-orang geje-geje an di medsos? Pikir ulang deh, siapa tahu tujuan relaksasi kamu belum tercapai dengan optimal).

Sejarah telah membuktikan, orang-orang besar terdahulu gak pernah kepo dengan kehidupan geje orang-orang sekitarnya (maklum mereka pada gak punya gadget dulu). Fokus pada tujuan mereka, pemanfaatan waktu yang teratur, membawa mereka kepada kesuksesan luar biasa. Mas Anies Baswedan (tokoh idola kekinianku) meskipun berjiwa muda, tapi masa mudanya gak dipakai update-update an messengers. Belau aktif berorganisasi, asah softskill, timba ilmu di pendidikan formal, jadilah beliau dengan prestasi-prestasinya di dunia pendidikan.

Akhir kata, tidak ada maksud untuk mengajak demonstrasi penutupan perusahaan messengers dan medsocials (terlalu lebay untuk masalah yang menyangkut korupsi waktu personal kita). Hanya ingin menekankan kepada kita semua:
ketahuilah tujuanmu menggunakan medsos atau messengers. Jika tujuanmu adalah bersilaturahmi, penggunaannya pun bisa diatur yakni dengan mengontak orang yang bersangkutan melalui telpon atau chat personal. Jika tujuanmu adalah update berita, tidak tepat tujuan jika mengunjungi medsos. Lebih baik buka situs Online-News, terpapar komplit news yang kita inginkan. Jika tujuanmu kepo kehidupan orang lain, boleh aja, tapi harus jelas dong buat apa kamu kepo sama kehidupan mereka…. Tetapkan siapa orangnya dan fokus aja kepo ke orang-orang itu, jangan keterusan kepo ke orang yang kamu gak kenal.

Ada saran atau apriori? Alhamdulillah, saya sangat welcome 🙂

2 thoughts on “Bahaya Update di Media Sosial atau Social Messenger”

  1. nice! jaman sekarang segalanya ada di medsos, dari akun friend, jualan, samapi berita uda ada semua di media sosial, Put. Mungkin mereka yang sering online sosmed menemukan kepraktisan mereka. Sekali buka, dapet segala info, husnudzon aja, hehe.. tapi bener, balik lagi ke kitanya, plotting time buat leye leye scrolling timeline sama kerja atau update diri ya porsinya harus ditentukan, biar ga kebablasan, hhe

    1. setuju san dg husnudzonitasmu. jk kita sdh menetapkan tujuan kita nge medsos utk pemasaran atau cr informasi trtntu, maka tdk bs org mngatakan bahwa kita lg nganggur gak produktif 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s