Uncategorized

Hakikat Mengasuh Anak

Terinspirasi dari blog seorang teman yang tengah stress menghadapi tingkah anak-anaknya di rumah.

Orang tua ada bermacam-macam tipe nya. Namun orang tua yang baik secara garis besar pasti ingin memberikan hal-hal di bawah ini terhadap anaknya:
A. Perlindungan dan keamanan secara fisik
B. Pendidikan
C. Kenyamanan/kesejahteraan

Sudah termasuk predikat orang tua yang diakui jika mereka memiliki 3 keinginan di atas terhadap anaknya. Namun bagaimana teknik orang tua memenuhi ke-3 nya juga menentukan apakah orang tua terakreditasi A, B atau C (atau malah BAN-PT :D)

image

cnn.com

Pasalnya ada beberapa perbedaan baik fundamental maupun teknis, dalam mengasuh anak, yang tujuannya sebenarnya sama-sama mengarah ke-3 poin di atas. Ini sudah terjadi di mana-mana, secara internasional. Perbedaan tersebut akan diulas di masing-masing poin berikut ini.

A. Perlindungan dan Keamanan secara Fisik.

# Ada pandangan, bahwa dunia di luar rumah adalah ancaman fisik yang besar. Oleh karena itu, anak-anak diminimalisir untuk tidak berada di luar rumah, entah untuk bermain dengan tetangga, bermain di taman bermain, rekreasi kelas, kerja kelompok, dsb.
Karena di luar rumah apapun bisa terjadi, misal pertengkaran dengan teman; kecelakaan sepeda atau mobil; penodongan; pencabulan; pemerkosaan; hingga pembunuhan. Agar tidak keluar rumah, ortu membelikan mainan, membuat taman bermain sendiri di belakang rumah, sehingga kebutuhan bermain anak sebisa mungkin terakomodir di dalam rumah sendiri. Bermain di luar rumah, harus bersama keluarga (ayah atau ibu nya) sehingga bisa terpantau terus keamanannya oleh mata, dan dalam durasi yang tidak lama. Ketika anak sudah bersekolah dan harus pergi-pulang sekolah, kerja kelompok, dan aktivitas akademis lainnya, ortu tidak melarang mereka keluar rumah, namun tetap ada cara agar anak-anak bisa diminimalisir dari potensi bahaya, yaitu dengan mengantar-jemput, dibatasi kapan harus pulang ke rumah, dan ditelpon secara rutin untuk mengetahui bagaimana keadaannya. Jarang anak-anak mereka dilepas dengan naik sepeda atau motor sendiri, pergi dengan angkutan umum, jalan kaki, walaupun hari sedang terang.

Padahal Bun, anak akan bertambah besar dan tidak bisa selamanya berada di sisi kita dan di bawah pantauan kita lho. Anak harus dibekali kemandirian untuk mengurusi kebutuhannya sendiri. Bagus sekali bahwa sebagai orang tua, kita ingin melindungi anak dari kecelakaan atau niat buruk orang lain. Cara yang lebih tepat adalah mengajari anak bagaimana berjalan di trotoar dengan aman, menggunakan sepeda dengan baik, agar terhindar dari kecelakaan. Mengikutsertakan anak (baik anak laki-laki maupun anak perempuan) dalam pelatihan silat, karate, judo atau taekwondo juga akan efektif untuk membekali anak dalam melindungi dirinya sendiri dari bahaya niat jahat orang tak dikenal. Dan didiklah untuk selalu berusaha berjalan di tempat ramai, dan amankan tas yang dibawa. Di usia dini, tentu anak dibimbing langsung oleh orang tua dalam mengenal cara-cara aman berjalan sendiri ke sana ke mari.

Dengan cara ini, orang tua melindungi anak dari sisi gelap dunia luar rumah sambil memberikan pendidikan kemandirian untuk menjaga diri sendiri dari bahaya, karena anak kelak akan mengarungi hidupnya sendiri dan tidak akan berada di bawah ketiak Bunda selamanya.

# Ada pandangan, bahwa semakin anak punya banyak kenalan atau teman, semakin berisiko pada keamanan mereka. Oleh sebab itu, anak sebisa mungkin bergaul dengan orang rumah saja (ayah, ibu, saudara kandung) dan kalaupun punya teman, satu saja cukup tidak perlu bergaul dengan yang lain.
Karena ada kekhawatiran jika kenalan atau teman tersebut ada niat yang tidak baik terhadap anaknya maupun terhadap keluarga. Informasi-informasi yang disampaikan juga diatur, anak-anak di briefing untuk tidak memberikan terlalu banyak informasi kepada orang-orang di sekitarnya, misalnya di kelas. Ini sebagai sistem pencegahan, agar anak bisa tetap berada dalam keadaan aman.

Padahal Yah, soft skill sosialisasi itu penting untuk dimiliki seseorang loh. Di dunia profesional, orang memang melihat gelar S1 juga, namun kemampuan berbicara, bekerja sama dan memimpin adalah di atas IPK maupun gelar. Untuk mendapatkan kemampuan tersebut tidaklah instan. Penulis merasakan sendiri betapa sulit jika ingin mendapatkan kemampuan sosialisasi di atas umur 20 tahun, seperti sudah terlambat, meskipun masih bisa dilatih. Ketika hal ini dimulai sejak dini dan dibiasakan, akan menjadi kompetensi sosial yang sangat berharga.

Tentunya tidak melepas anak begitu saja untuk bergaul dengan teman sebayanya. Orang tua perlu mengontrol juga apa yang dilakukan anaknya bersama teman-temannya. Misalnya anaknya di TK telah dipukul oleh teman lainnya, maka orang tua harus memberikan pengertian mengapa teman lain memukulnya, dan apa yang harus dilakukan agar ia ke depan tidak terpukul lagi. Atau ketika hari ini anak memukul temannya, maka dialog orang tua dengan anak mengenai alasan anak memukul, dan apa yang harus dilakukan esok hari kepada teman yang dipukul (meminta maaf) sangatlah penting dilakukan. Itu semua demi membimbing anak untuk terbiasa menyelesaikan masalah dengan teman-teman sepergaulannya. Lambat laun mereka akan mandiri dalam berpikir bagaimana solusi terhadap masalah yang dihadapinya dengan orang lain.

Selain itu, orang tua juga merupakan filter bagi pengetahuan dan figur anak. Penggalian terhadap apa yang dilihat dan dikagumi anak di TK, lalu mengarahkan mana yang seharusnya dikagumi dan mana yang harus dijauhi, merupakan upaya untuk membangun kognisi dan konsep moral anak.

Sehingga Yah, ada jalan tengah agar anak tetap dalam keadaan aman, namun tetap berkembang kemampuan sosialisasi dan kecakapan moralnya, tidak harus dilarang untuk bergaul dan hanya memojokkan diri. riimage
lauderfoundation.com

# Ada pandangan, bahwa semakin anak mengetahui banyak hal-hal baru, semakin berpotensi memunculkan bahaya.
Misalnya di usia dini (anak sudah bisa mengungkapkan pikirannya dan mengerti pembicaraan orang lain) ketika anak mengenal gunting, maka anak akan penasaran ingin mencobanya, dan muncullah potensi untuk melukai tangannya sendiri dengan gunting. Oleh karena itu, “jangan biarkan anak memegang gunting”. Pun benda-benda lainnya di rumah, ataupun di luar rumah.

Padahal Bun, jika anak tidak mulai dikenalkan dengan hal-hal di sekitarnya, mulai kapan anak belajar? Jika demikian, maka akan ada benturan dari kebutuhan anak  untuk senantiasa aman, dengan kebutuhan pendidikan anak di rumah. Karena dengan mengenalkan hal-hal baru di rumah memiliki efek positif sebagai berikut:
1. Anak tahu dan bisa hal baru, misal menggunting.
2. Anak dimandirikan, misal ketika sudah mengenal bagaimana menggunting, maka ia bisa menggunting sendiri jika dia memang butuh.
3. Yang paling berharga adalah, anak belajar bertanggung jawab terhadap kemampuan barunya. Dengan bisa mengoperasikan gunting, anak punya pilihan apakah mau menggunting kertas atau menggunting baju-baju, sofa atau gorden rumah. Anak belajar dewasa dalam menyikapi kebisaan nya yang baru. Jika di rumah sudah sering dilatih demikian, maka moralitas positif anak akan terbentuk dan jadilah ia generasi emas. Karena koruptor berasal dari anak-anak yang tidak terlatih kebiasaan untuk bertanggung jawab terhadap apa yang ia mampu lakukan, misal dengan jabatan yang ada, apakah digunakan untuk mengemban amanah atau digunakan untuk memperkaya diri sendiri.

Itulah hakikat mendidik anak, yakni memberi pengetahuan baru, kemampuan baru, dan yang tersulit adalah menumbuhkan tanggung jawab dari pengetahuan dan kemampuan barunya. Apalah artinya jika anak hanya tahu dan mampu, tapi disalahgunakan pengetahuan dan kemampuannya, tidak ubahnya seperti pejabat korup saat ini. Namun apalah artinya melahirkan anak ke dunia tanpa memberi tahu dan memberikan kemampuan, anak hanya akan menjadi sampah masyarakat kan Bun.

B. Pendidikan

Ada pandangan, bahwa pendidikan anak sama dengan sekolah. Jika anak belum sekolah, maka anak belum dikatakan memasuki dunia pendidikan. Pendidikan anak yang ideal adalah datang ke sekolah, mendengarkan guru, mencatat di buku, pulang ke rumah mengerjakan PR, dan mengerjakan ujian di sekolah sampai nilainya bagus.

Sekarang coba Ayah Bunda ingat-ingat, pelajaran sekolah yang dahulu kala Ayah Bunda pelajari dan pernah dikerjakan pada saat ujian. Masih ingatkah Bun? Masih pentingkah materi-materi di buku PR Ayah Bunda dulu? Apakah penjelasan guru di sekolahnya Ayah dulu mampu menyelesaikan masalah kantor dan masalah keluarga Ayah saat ini?

Rupanya kita seringkali terjebak dalam dua istilah yang terlihat sama namun sebenarnya berbeda: sekolah dan pendidikan. Menurut penulis, pendidikan adalah lingkup yang luas, dan sekolah termuat di dalamnya. Pendidikan berbicara mengenai sebuah proses panjang membentuk pengetahuan, pola pikir, moral dan skill seseorang. Pembentukan tersebut sejatinya telah dimulai sejak bayi lahir ke dunia. Ketika bayi harus meminum ASI, bayi pun belajar cara meminumnya dengan mulut (menyedot) karena ketika masih berupa janin, ia tidak repot meminum dari mulut melainkan secara otomatis menerima dari tali pusar. Ini pun pada hakikatnya sudah merupakan proses pendidikan. Kemudian bayi belajar memakan makanan yang lebih padat, belajar berguling sendiri, belajar duduk sendiri, belajar merangkak sendiri, belajar mengambil sendiri apa yang diinginkan, belajar berjalan sendiri. Semua itu hakikatnya pendidikan.

Lalu bayi mulai meniru apa-apa yang dilihatnya dari orang tua, dari saudaranya, dari orang di sekitarnya. Pada saat itu terjadi proses bayi membuat dirinya mampu melakukan hal-hal yang sebelumnya tidak bisa ia lakukan. Bayi belajar berceloteh, dan mendengarkan apa yang orang sekitarnya bicarakan. Bayi belajar memahami sesuatu, hingga ia mampu berbicara mengutarakan keinginannya. Kemudian apa-apa yang Ayah Bunda upayakan terhadap anak di poin A untuk menjaga keamanan anak-anak, merupakan proses pendidikan juga.

Lalu apa itu sekolah? Sekolah adalah lembaga pendidikan, yang secara sistematis memiliki program untuk membawa anak pada pengetahuan, pola pikir, moral bahkan skill yang berkembang. Orang tua jika ditanya apakah sanggup membawa anaknya di rumah sendiri pada pendidikan yang sistematis seperti sekolah, maka akan ragu-ragu menjawabnya. Sekolah adalah fasilitas wajib yang digunakan untuk menunjang progresifitas pendidikan anak yang sudah dimulai dari rumah. Sifat sekolah adalah melanjutkan dan memfasilitasi pendidikan yang sudah dilakukan orang tua di rumah. Tidak ada sekolah yang mengajarkan muridnya berjalan, atau berbicara. Dan sekolah menumbuhkan penasaran muris terhadap sesuatu yang baru, yang bisa murid dalami sendiri setelahnya di rumah. Oleh karena itu, ketika jam sekolah berakhir bukan berarti pendidikan anak berhenti pada hari itu, melainkan berlanjut di rumah di mana anak mencoba mendalami sendiri apa yang ia dapatkan dari sekolah, mengkritisi kembali, dan seterusnya.

Sekolah dan rumah adalah mitra pendidikan anak. Pendidikan dimulai dari rumah, dilanjutkan di sekolah dan tidak pernah berhenti dalam kehidupan seseorang. Sehingga berikanlah anak di rumah hal-hal positif dengan cara-cara yang positif pula. Untuk mendalami bagaimana kongkritnya, orang tua ataupun calon orang tua harus rajin membaca artikel ataupun buku parenting. Di sini hakikatnya orang tua pun sedang menempuh pendidikan secara mandiri mengenai pengasuhan anak, baik pengembangan pengetahuan tentang parenting, pola pikir parenting, moral pengasuhan anak sampai skill menghadapi tingkah laku anak.

C. Kenyamanan/Kesejahteraan

Ada pandangan, bahwa anak tercinta harus diberikan apa-apa yang diinginkannya, demi menjaga perasaan nyamannya dan demi kegembiraannya. Akhirnya, setiap anak menginginkan sesuatu, orang tua harus memenuhinya.

Padahal Yah, dengan begitu orang tua pada saat yang sama sedang tidak mendidik anaknya lho. Terbentuklah pola pikir bahwa orang tua adalah sumber segalanya, sehingga segala kebutuhan tinggal mengajukan kepada orang tua. Moral meminta akan terbentuk, tidak berusaha memenuhi kebutuhannya sendiri.

Lagipula, standar kenyamanan dan kesejahteraan bukanlah dari terpenuhinya segala kebutuhan anak sampai ke kebutuhan tersier. Kadangkala anak harus dididik untuk menahan hawa nafsunya menginginkan sesuatu. Penulis memiliki pengalaman mempunyai adik kandung yang mandiri dalam memenuhi keinginannya memiliki pistol mainan. Ia kumpulkan kardus-kardus dan membuat pistol mainan dengan modal selotip dan kardus. Lalu berkembang kepada keinginan lain membuat mainan lainnya.

Sehingga dengan memenuhi segala keinginan anak, sangatlah kontraproduktif dengan niat baik Ayah Bunda mendidik karakter dan moral anak. Seimbanglah dalam memenuhi keinginan anak, Bun, jangan berlebihan, tapi jangan juga kekurangan hingga anak jatuh sakit.

Menjadi orang tua memang tidaklah sepraktis yang dibayangkan para calon orang tua. Ada tanggung jawab besar orang tua ketika melahirkan seorang anak ke dunia. Anak ini nanti akan jadi seperti apa, apakah anak generasi emas, atau justru menjadi ancaman bagi masyarakat kelak, hanya Allah yang mengetahui, namun orang tualah bengkel utamanya yang menjalankan sunatullah pembentukan karakter anak.

image
nairaland.com

Oleh karena itu hati-hati para Bunda, khususnya yang merencanakan karir ketika punya anak di rumah. Karir memang bentuk ibadah kita kepada Allah SWT, namun anak juga merupakan amanah Allah SWT yang nantinya akan dimintai pertanggungjawaban. Jika Bunda atau Ayah kekurangan waktu untuk mendidik dan membimbing si kecil menjadi pribadi emas, maka Allah tidaklah buta. Jagalah title Ayah dan Bunda sebagai “Orang Tua” itu. Dengan memahami hakikat mengasuh anak, semoga Ayah dan Bunda diberikan kelancaran dalam menumbuhkembangkan si kecil.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s