Cloth Diaper

Mengapa Pilih Clodi untuk Bayi? – 5 Alasanku

Memilih di antara dua pilihan itu kadang tidak semudah memilih buah segar di antara buah yang busuk.. apalagi kalau harus memilih antara clodi/popok kain bayi atau pospak/popok sekali pakai. Karena mau tak mau, tiap pilihan tersebut ada plus dan minus nya.

Tapi pada akhirnya, pilihanku jatuh pada popok kain. Melalui proses perhitungan yang tidak sebentar (tapi gak panjang juga prosesnya hehe), aku coba rangkum beberapa hal yang meyakinkanku memakaikan popok kain untuk Mariam.

#1 Alasan Ekonomi

Menentukan mana yang lebih ekonomis juga menurutku harus fair, tapi lebih baik jangan dikaitkan dengan rumus ekonomi global.. toh poin ini lebih ke dampak terhadap dompet masing-masing.

Biaya Pospak

…dengan asumsi, popok anak diganti 6-8 kali per hari dan masa pra toilet mereka sampai umur 2-4 tahun.

  • Tiap kali beli, duit yang dikeluarkan hanya puluh ribuan… katakanlah Rp30.000,- per pack.. a.k.a harga beli terjangkau.
  • Tapi beli nya hampir setiap satu sampai dua minggu, karena setelah habis dipakai, harus stock lagi satu sampai dua pack. Jadi beli nya rutin mingguan.
  • Pada dasarnya, ada juga cost tenaga yang dibutuhkan untuk mengelola sampah pospak ketika sudah mendarat di TPS. Namun karena cost nya tidak langsung dirasakan oleh dompet kita, saya anggap poin ini sebagai poin “pengorbanan”.
screenshot harga jual pospak di internet

Kalau mau dihitung matematis, silakan. Saya dapet angka 2,5 juta sampai 5 juta rupiah untuk pengeluaran pospak satu anak selama masa pra toilet nya. Kalo anak ke-dua brojol, maka (tinggal) dikalikan dua, dst.

Biaya Popok Kain

…dengan asumsi, popok anak diganti 6-8 kali per hari dan masa pra toilet mereka sampai umur 2-4 tahun.

  • Satu kali beli, mengeluarkan sekitar 100 – 300 ribu rupiah per pieces nya. Kalau beli satu paket popok kain, bisa mengeluarkan 2-3 juta rupiah.
  • Belinya hanya satu kali, yakni di awal saja. Setelah itu popok kain yang sudah digunakan bisa dicuci dan dipakai kembali.
  • Namun, ada biaya cuci, yang meliputi biaya listrik dan biaya air. Kalau dikeringkan pakai mesin, tambah lagi biaya listrik nya. Kalau dijemur biasa, tidak ada rupiah yang keluar meski capek harus jemur.

Karena biaya listrik dan air itu sulit diterka, saya anggap poin ini sebagai poin “pengorbanan”. Seperti hal nya mencuci pakaian dan celana dalam, kita tidak pernah berpikir untuk pakai baju sekali pakai (baspak hahaha) atau celana dalam sekali pakai (cedaspak hahaha) sehari-hari hanya karena tak mau banyak cucian di rumah, ya gak?! Tetap aja kalau kita keringetan, kita cuci baju berkeringat kita dan pakai baju fresh dari lemari. Begitupun untuk si kecil dan popoknya.

Akhirnya, kalau dihitung, biaya yang keluar (tanpa biaya “pengorbanan”) adalah 2-3 juta untuk satu, dua, tiga bahkan sampai empat anak.

Kesimpulan:
dilihat secara ekonomi,
popok kain lebih dompet-friendli

#2 Alasan Kesehatan Kulit Bayi

Kulit bayi itu tipis dan belum sempurna, butuh beberapa tahun untuk mendewasakan lapisan pelindung kulit mereka. Jadi harus hati-hati, jangan sampai pilihan kita kontraproduktif dengan proses pendewasaan kulit bayi.

Pospak…

  • …mengandung superabsorber yang terbuat dari polypropylen. Ini adalah bahan utama dalam membuat kantong keresek.
  • Bahan kimia sintetis selain polypropylen biasanya lotion berbahan minyak parafin dan parfum.
  • Produsen pospak senantiasa menciptakan teknologi baru untuk menyempurnakan kekurangan pada pospak. Misalnya pospak modern itu tidak berparfum dan lapisan atasnya dibuat dari cotton, guna mencegah ruam-ruam pada kulit bayi.
  • Karena faktor dompet, ada sebagian ortu yang irit pemakaian pospak.. artinya, pospak yang mestinya diganti tiap 2-3 jam sekali, malah diganti tiap 4 jam. Kalau kualitas pospaknya bagus (yang biasanya diiringi dengan harga beli yang mahal), mungkin permukaannya masih kering bahkan hingga 6 jam. Tapi kalau kualitas menengah ke bawah, permukaan akan menjadi lembab dan basah, dimana ini bisa menunjang iritasi kulit pantat bayi karena terlalu lama bergesekan dengan permukaan yang basah.

Zat kimia buatan pada dasarnya tidak diperlukan oleh kulit bayi, bahkan tidak disarankan, sebab kulit bisa memerah dan terluka, karena toh itu bahan yang terlalu agresif untuk kulit sesensitif kulit bayi.

Tidak hanya itu. Kalau kulit bayi ditutup oleh polypropylen, itu seperti halnya ditutup oleh kantong keresek. Akibatnya pertukaran udara jadi terhambat dan kulit pantat bayi jadi sering berkeringat, lembab dan ‘sesak napas’.

Harapan terakhir bagi para pecinta pospak adalah teknologi yang dibuat sedemikian rupa pada pospak agar mampu meminimalisir ruam pada bayi. Saat ini sudah ada pospak yang bebas parfum, super dry dan menunjang sirkulasi udara. But again, harga beli per pack nya lebih mahal. Dan untuk menciptakan pospak ini pun sebenarnya cost produksinya sangat tinggi, karena berarti mesin-mesin di pabrik juga harus bekerja lebih keras. Tapiiii karena aku sedang bahas poin “kesehatan kulit bayi”, maka poin ini kita lupakan saja sementara.

Popok kain…

  • …terbuat dari bahan yang berbeda-beda. Ada produsen yang menekankan pada bahan organik, se alami mungkin. Misal 100% cotton, serat hemp, bambu, woll.
  • Ada produsen yang mencampur bahan sintetis dengan bahan alami, atau bahkan hanya menggunakan bahan sintetis saja untuk mengurangi biaya produksi. Biasanya popok kain ini pun akan dijual lebih murah di pasaran.
  • Tidak mengandung polypropylen, tapi banyak clodi yang mengandung polyurethan sebagai bahan waterproof yang mencegah kebocoran. Sedangkan bahan waterproof alami seperti kain woll dijual lebih mahal dan membutuhkan perawatan khusus yang juga tidak murah.

Jika ingin yang terbaik untuk si kecil, memang bahan alami adalah bahan yang paling bisa ditoleransi oleh kulit bayi. Ini berkaitan erat dengan budget para orang tua, karena bahan alami jelas lebih mahal harganya. Solusi di keluarga kecilku yang dompet-dompetnya juga kecil adalah, bahan campuran antara bahan alami dengan sintetis. Adapun risiko ruam-ruam di kulit pantat bayi kami kompensasi dengan rutin ganti popok Mariam setiap 2 jam sekali.

Sedangkan bahan waterproof alami seperti woll pun tidak menjadi pilihan kami. Karena biaya pembelian dan perawatannya tinggi, tak sanggup kami membayarnya. Jadi kami pilih bahan polyurethan, yang juga adalah jenis plastik. Produsen popok kain yang kami percayai mendesain bahan waterproof ini sedemikian rupa, sampai polyurethan nya tipis dan tetap menunjang sirkulasi udara.

Kesimpulan:
demi menjaga kesehatan,
pilih clodi harus cekatan
Tapi pospak tak jadi pilihan,
meski anak merasa nyaman,
namun bukan satu-satunya alasan

#3 Alasan Lingkungan

Bahas ini rumitnya minta ampun.. karena kalau poin-poin sebelumnya kaitannya dengan dompet pribadi dan kulit bayi doang, di poin ini kita harus berpikir makro, bertaraf global.

Pospak

  • Satu anak butuh 7-9 lembar pospak setiap harinya, idealnya semakin berkurang jumlah kebutuhannya seiring dengan pertambahan umur. Jika anak mulai ke toilet di umur 3 tahun, sekitar 5000 lembar pospak yang ia butuhkan sebelumnya.
  • Memproduksi lembaran pospak di pabrik itu urusannya mesin-mesin. Milyaran lembar pospak diproduksi dalam sehari, saking canggihnya mesin itu. Berapa kilowatt listrik yang dikeluarkan, berapa banyak zat polutan yang dihasilkan dari produksi massal ini, researchable di mbah google yaa.. saya gak demen angka. Cukup satu kata: banyak!
  • Setelah lembaran pospak dipakai, harus dibuang dong. Uniknya, pospak tidak hanya mendarat di TPS, tetapi juga di sungai-sungai. Ini berarti, banyak pospak yang juga sudah bermuara ke lautan.
  • Pospak tidak bisa dimusnahkan dengan praktis. Kalau dibakar, zat polutan yang dihasilkan pun sangat tinggi.
  • Pospak yang terdampar di laut atau di tanah baru bisa terurai setelah ratusan tahun lamanya. 500 tahun malah..
screenshot halaman tirto.id

Popok kain

  • Produksi popok kain bisa diambil alih oleh mesin, dan bisa juga dijahit secara konvensional.
  • Popok kain yang kotor harus dicuci. Pencucian dengan deterjen apabila didosis terlalu tinggi di cucian, bisa menjadi polutan besar bagi lautan. Karena deterjen mengancam kelangsungan ekosistem laut, jika dosisnya besar.
  • Pencucian dengan mesin cuci dan mesin pengering pun menambah jumlah zat polutan di langit dan lautan.

Di sini terlihat bahwa baik pospak maupun popok kain memiliki harga yang harus dibayar untuk lingkungan. Namun hemat saya, pada popok kain, harga tersebut bisa dicegah atau diminimalisir dengan beberapa cara.

  1. Untuk mencegah adanya zat polutan akibat produksi popok kain, pilihlah popok kain yang diproduksi dengan konvensional (handmade) dan fair. Harga rupiah nya mungkin lebih tinggi, tapi akhirnya hati jadi lebih tenang. Pada pospak, sulit untuk mencari yang handmade, karena pospak mengandalkan mesin untuk produksi massal.
  2. Gunakan deterjen dengan bijak untuk mencuci apapun itu. Cuci pakaian baik dengan tangan maupun di mesin, kalau deterjennya kelebihan dosis, sama-sama merusak. Yang terbaik adalah ikuti petunjuk dosis yang tercantum di packaging deterjen nya. (Kalau kami biasanya dikurangi sedikit dari dosis yang dianjurkan, misal dikurangi 5 ml. Hasilnya tetep bersih.)
  3. Kalau pakai mesin cuci, ada baiknya tunggu sampai cucian popok full. Berdasarkan anjuran produsen popok kain yang kami gunakan yakni WindelManufaktur, popok yang kotor bisa ditumpuk maksimal 4 hari. (Untuk mencegah bau tidak sedap, popok kain yang kotor dimasukkan ke dalam wetbag.) Setelah itu harus langsung dicuci dengan air panas. Dengan menunggu beberapa hari, ritme mencuci bisa 4 hari sekali, dan sekali mencuci, mesin cucinya lebih full. Ini sama dengan logika mencuci sehari-hari di mesin cuci.. kita gak cuci 2 potong pakaian doang kan di mesin cuci?!polish_20200730_1517355932734877153016094638.jpg

Harga lainnya, seperti tenaga watt yang terbuang untuk mesin cuci, memang adalah harga yang harus dibayar ketika memakaikan popok pada anak. Namun setidaknya, biaya popok kain ini lebih dapat dikontrol daripada biaya pospak.

Karena sifat pospak yang “sekali pakai langsung buang”, sulit mengontrol jumlah sampah yang dihasilkan. Seringkali orang tua mengalami “insiden”, ketika baru saja 5 detik mengganti pospak pada bayinya, bayi sudah pupup lagi. Katakanlah hanya se emprit, permukaan pospak di sekitarnya masih bersih dan kering. Tapi, apakah ortu mau membiarkan anaknya berjam-jam menduduki pupupnya sendiri? Kalau ortunya gak tegaan kayak aku, pasti langsung ganti lagi popok yang baru, agar pantat bayi yang sudah fresh tetap terjaga kesegarannya. Kalau yang dipakai popok kain, aku tambah tega, karena tinggal mengganti bahan penyerapnya dengan yang masih bersih, sementara yang kotor masuk ke tumpukan cucian popok di wetbag. Namun kalau pospak yang dipakai, meskipun 90% permukaannya masih kering dan bebas kuman, tetap harus dibuang ke tempat sampah, karena pupupnya yang mengotori hanya 10% permukaan popok pasti menyisakan flek dan bau meski sudah diusap oleh tissue basah. Ini berarti, ortu membuang dua pospak dalam waktu kurang dari satu menit. Lihatlah, berapa sampah yang dihasilkan dari insiden yang tidak jarang terjadi ini…

Kesimpulan:
Untuk menjaga bumiku asri,
kupakaikan anakku clodi

#4 Alasan Pendidikan Anak

Apa hubungannya ya popok kain dengan pendidikan????? Ada, Bun… pendidikan toilet-training. Karena anakku Mariam masih 4 bulan umurnya ketika aku nge blog artikel ini, aku belum punya pengalaman real tentang toilet training. Jadi ulasan di bawah ini adalah berdasarkan research ku di internet yaa teman-teman.

Agar bisa termotivasi untuk toilet training, secara umum anak butuh dua hal:

  1. Kematangan fisik dan motoriknya. Saraf otot bagian bawah anak harus sudah terhubung dengan otak agar bisa mengetahui kapan ia harus pipis dan pupup. Ini adalah faktor yang tidak bisa dipengaruhi dari luar, melainkan murni dari perkembangan sel-sel saraf dan sel otak anak. Ada anak yang sudah bisa mengontrol ekskresinya di umur 2 tahun, ada yang baru bisa di tahun ke 4. Setiap anak unik dan berbeda-beda.
  2. Anak harus paham hukum sebab-akibat dari proses ekskresinya. Sederhananya, anak harus berpikir begini: “kalau aku pipis, maka aku akan basah. Kalau aku basah, rasanya tidak nyaman serta bau pesing. Agar aku gak basah dan bau, aku harus pipis di toilet”. Sehingga anak harus punya pengalaman ‘basah’ sebelum ia mengerti kenapa ia harus ke toilet.

Pospak

Superabsorber dalam pospak menjanjikan para bayi untuk tetap merasa kering di pantat meskipun bayi sudah pipis berkali-kali. Makanya di iklan selalu dibilang, bahwa popoknya tahan 6 jam, bahkan 12 jam. Bayi tentu merasa nyaman, karena meski ia pipis, area pantat tetap kering. Namun ini juga berarti bahwa bayi jarang punya pengalaman ‘basah’, sehingga butuh waktu lebih lama untuk bayi memahami nilai penting ke toilet.

Meskipun kemampuan fisik dan kognitif anak tidak bisa dipukul rata, namun banyak ibu-ibu yang mengatakan bahwa bayi mereka yang dipakaikan pospak rata-rata mulai ke toilet di umur 3 sampai 4 tahun.

Tu
Screenshot website dari Jerman, berisikan argumen mengenai bayi yang cepat mandiri dalam ber abdes karena mengenakan clodi.

Popok kain

  • Bahan penyerapnya mampu menyerap cairan pipis ke dalam kain, namun tidak secanggih superabsorber pospak dalam menyerap cairan. Permukaan bahan penyerap pada popok kain akan menjadi lembab jika dipipisi satu kali, dan menjadi basah setelah beberapa kali dipipisi.
  • Bayi akan merasakan basahnya popok kain yang ia pakai dan mampu memahami hubungan pipis atau pupupnya dengan basahnya popok.

Banyak ibu-ibu yang memakaikan popok kain untuk bayinya berkata, bahwa bayi-bayi mereka mulai ke toilet di umur 1,5 tahun, dan setelah umur 2 tahun sudah bisa konsisten ke toilet.

Kalau bayi menggunakan popok kain dari tahun pertama ia dilahirkan, maka pengalaman ‘basah’ ini akan mendorong mereka untuk berbuat sesuatu untuk menjaga diri mereka tetap kering, minimal dengan melaporkannya kepada Ibu atau Ayahnya bahwa ia merasa basah dan ingin digantikan popoknya oleh Ibu dan Ayah. Pada akhirnya, tidak hanya belajar toilet, bayi juga belajar mengkomunikasikan keinginannya untuk bersih, Bun.. dan puncaknya, ketika kemampuan motorik serta fisik bayi sudah cukup mapan, bisa tahan pipis dan pupupnya, ia hanya tinggal belajar membiasakan diri dengan toilet.

Kesimpulan:
biarlah bayi belajar basah,
agar logikanya bisa terasah

#5 Alasan Estetika

Ini alasan yang menurutku paling gak penting di antara yang lain, namun kadang perlu dalam hidup untuk menikmati keindahan itu. Apa yang indah dari popok? Motif-motifnya, Bun.. kalau popok kain, biasanya motifnya warna warni dan bervariasi. Jujur aja, aku seneng kalo harus ganti popok Mariam karena ingin memakaikan motif lain yang lucu dan terlihat indah buat Mariam. Rasanya senang melihat Mariam dengan motif polar bear, motif daun-daun, motif burung, dan lain-lain.

Untuk mengantisipasi kalau-kalau anak ke dua kami ternyata laki-laki, sengaja kami beli motif popok kain yang netral, misalnya daun-daun, warna hijau dan biru, motif binatang, dan sebagainya, agar adeknya Mariam nanti tetap bisa pakai popok kain bekas Mariam meskipun ia laki-laki.

Kesimpulan:
pakein popok harus bersuka hati,
agar anak merasa dikasihi
dengan motif-motif strawberi,
ganti popok anak gapake jiji'

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s